Risk Vs. Knowledge Dalam Berinvestasi

Ketika berbicara investasi, orang awam selalu menganggapnya sebagai keputusan yang sangat beresiko, sehingga tidak jarang muncul pernyataan seperti ini:

“Investasi saham itu beresiko, lebih baik taruh uang di deposito aja”, “Jangan investasi aneh – aneh, udah simpan aja duit kamu tabung di bank”, “Beli emas aja, lihat tuh pas pandemi kemarin naiknya gila – gilaan”. 

Sebenarnya kalimat – kalimat ini sering saya dengar dari orang tua saya. Saya besar di keluarga yang sangat konservatif ketika berbicara investasi. Saya hanya diajarkan untuk menabung di bank, buka deposito, atau beli emas, padahal ada banyak instrumen investasi lain yang bisa dimanfaatkan apalagi kalau kita berbicara jangka waktu investasi yang panjang. 

Image by Gino Crescoli from Pixabay

Ketika berbicara resiko dalam investasi orang lebih senang menghindarinya daripada mengelolanya, padahal yang namanya resiko tidak bisa dihindari. Siapa bilang menabung dan deposito itu aman? Coba tengok kembali krisis 98 atau keadaan Myanmar beberapa bulan lalu ketika terjadi Rush Money, punya uang juga tidak bisa diambil. Resiko akan selalu ada, besar atau kecil, pertanyannya bagaimana cara kita mengelolanya? 

Menurut saya, resiko investasi itu muncul ketika kita memberikan uang yang kita miliki kepada orang yang tidak kita tahu untuk diinvestasikan ke dalam sesuatu yang tidak kita mengerti. Jadi untuk mengecilkan resiko ini, kita cukup membuat diri kita yang ‘belum mengerti’ menjadi ‘mengerti’, dengan cara menambah pengetahuan

Warren Buffett pernah berkata "Risk comes from not knowing what you're doing".

Kalau kamu tidak mengerti tentang saham, maka beli saham itu beresiko. Kalau kamu tidak mengerti tentang properti, maka beli properti itu beresiko. Kalau kamu tidak mengerti tentang bitcoin, maka beli bitcoin beresiko. 

Jadi, pengelolaan resiko dalam investasi seharusnya dilakukan dengan cara belajar instrumennya dahulu sebelum menaruh uang di sana. Kamu tidak perlu menjadi seorang expert dulu untuk mulai investasi, tapi setidaknya kamu punya pengetahuan dasarnya. Setelah itu biarlah pengalaman yang akan membuatmu menjadi lebih baik lagi. 

Saya perlu waktu setahun untuk belajar saham sebelum akhirnya cukup nyaman untuk berivestasi di pasar saham. Apakah saya langsung berhasil? Tentu saja tidak, karena ada beberapa hal yang tidak bisa dipelajari hanya dengan teori. 

Tapi hasil pembelajaran setahun itu membuat saya lebih percaya diri untuk berinvestasi di pasar saham. Setidaknya pengetahuan dasar yang saya miliki bisa membuat saya tidur nyenyak di malam hari walaupun portofolio saya harus naik turun setiap harinya. 

Daripada hanya menonton konten hiburan di Youtube, coba manfaatkan Youtube sebagai sarana belajar investasi. Ada banyak informasi gratis yang cukup berkualitas di luaran sana, pertanyaannya apakah kita mau menginvestasikan waktu kita untuk belajar? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *