Mengenal Indeks Saham

Ketika membaca berita tentang saham, Finners pasti sering menemukan kata index pada artikel tersebut.

Apa sih indeks itu?

Indeks adalah sebuah acuan yang terstandardisasi untuk mengukur kinerja dari sekelompok aset. Mungkin Finners bertanya-tanya, buat apa ya diukur? Kalau udah diukur, terus buat apa?

Untuk apa sih mengukur Indeks?

Indeks sendiri memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  1. Dapat digunakan untuk mengukur sentimen terhadap pasar saham.
  2. Dapat dijadikan produk investasi seperti Reksadana Indeks, ETF Indeks atau produk lainnya.
  3. Dapat digunakan sebagai benchmark untuk membandingkan dengan imbal balik yang didapat dari portfolio aktif.

Contoh Indeks yang sering digunakan

Pada pasar saham, indeks yang paling sering dipakai adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yaitu indeks yang mengukur kinerja harga semua saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

gambar 1. tabel pergerakan harga indeks
credit: https://www.idx.co.id/data-pasar/laporan-statistik/statistik/

Saat artikel ini ditulis, IDX memiliki total 35 indeks saham, yang dibagi berdasarkan:

  1. Sektoral
    Indeks ini mengukur kinerja saham berdasarkan masing-masing sektor usaha industri, yaitu: (1) Pertanian, (2) Pertambangan, (3) Industri Dasar dan Kimia, (4) Aneka Industri (5) Industri Barang Konsumsi, (6) Properti, Real Estat, dan Konstruksi Bangunan, (7) Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi, (8) Keuangan, (9) Perdagangan, Jasa dan Investasi.

    Selain 9 sektor tersebut, ada juga Indeks Sektor Manufaktor yang merupakan saham yang terdapat pada sektor (1) Industri Dasar dan Kimia, (2) Aneka Industri, dan (3) Industri Barang Konsumsi.
  2. Likuiditas
    Indeks ini berisi saham-saham yang dipilih berdasarkan likuiditas, kapitalisasi pasar dan juga volume transaksi harian pada pasar saham. Contoh: IDX30, LQ45 dan IDX80.
  3. Kapitalisasi Pasar
    Indeks ini berisi saham-saham yang dipilih berdasarkan kapitalisasi pasar mereka. Contoh: IDX SMC Composite, IDX SMC Liquid, PEFINDO25 yang mengukur kinerja saham-saham dengan kapitalisasi pasar kecil dan menengah.
  4. Value dan Growth
    Indeks ini berisi saham-saham yang yang tergolong dalam valuasi rendah (contoh: IDX Value30), atau saham-saham dengan pertumbuhan harga dan laba bersih yang baik (contoh: IDX Growth30).
  5. Dividen
    Indeks ini berisi saham-saham yang memberikan dividen tunai yang tinggi atau memiliki dividend yield yang tinggi untuk pemegang saham mereka (contoh: IDX High Dividend 20).
  6. Syariah
    Indeks ini berisi saham-saham yang dinyatakan sebagai saham syariah sesuai dengan Daftar Efek Syariah (DES) yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Contoh: JII, JII70, ISSI.
  7. Brand Index
    Indeks ini adalah indeks yang dibuat oleh institusi lain diluar IDX sesuai dengan metodologi masing-masing institusi. Contoh: KOMPAS 100 dibuat oleh Kompas Group, BISNIS-27 oleh penerbit surat kabar harian Bisnis Indonesia, dan lainnya.

Dengan memahami indeks, kamu bisa membandingkan saham pilihanmu dengan indeks sektor industri saham tersebut untuk membandingkan imbal hasil saham tersebut dibandingkan dengan kelompoknya.

Kamu juga bisa membandingkan imbal hasil portofolio saham kamu dengan IHSG untuk melihat apakah kamu sudah beat the market!

Jika kamu ingin belajar lebih banyak tentang keuangan pribadi dan perencanaan keuangan, follow instagram @fingram.id to keep updated ya!

written by
Kevin Ferdinand
@kevin.ferdinandh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *