Mengenal Berbagai Produk Investasi Syariah

Di jaman sekarang, terlebih dengan adanya bantuan teknologi, semakin mudah orang-orang mengakses produk investasi syariah yang dapat digunakan untuk meningkatkan nilai kekayaan mereka. Berikut adalah contoh-contoh produk investasi syariah yang dapat ditemui di gawai genggaman anda dengan setoran modal yang sangat terjangkau:

1. Saham Syariah

Secara sistem, transaksi pembelian dan penjualan saham syariah ini sama persis seperti saham konvensional. Namun, emiten yang masuk kategori syariah ini harus telah terdaftar dalam DES (Daftar Efek Syariah) yang mana dapat dilihat dalam indeks ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) di website BEI (Bursa Efek Indonesia) yaitu di www.idx.co.id.

Totalnya ada sekitar 451 emiten syariah di dalam ISSI (data per 11 September 2020). Dan untuk bisa masuk dalam kategori saham syariah, ada beberapa syarat yang harus dicapai oleh emiten yaitu sebagai berikut:

1. Produk yang dijual bukan produk haram, serta tidak mengandung riba, gharar, dan maysir.

2. Total utang yang mengandung unsur riba dibanding total aset maksimal 45%

3. Total penghasilan ribawi dibanding total pendapatan maksimal 10%

4. Terdaftar di DES dan selalu diseleksi ulang oleh OJK (Otoritas Jasa keuangan) setiap setahun dua kali yaitu pada bulan Mei dan November.

2. Sukuk

Kebanyakan orang sering menyamakan Sukuk sama dengan konsep Obligasi. Padahal secara prinsip, dua model ini memiliki pondasi dan sistem yang berbeda. Jika obligasi merupakan surat utang dan si pemberi utang akan memperoleh kupon atau return berdasarkan dana yang yang diutangkan (riba), sedangkan di sukuk memiliki underlying asset atau proyek yang halal sebagai basis perputaran investasinya.

Sukuk sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu ‘Shak‘ yang berarti instrumen legal. Sukuk di sini dibagi dua yaitu Sukuk Koporasi dan Sukuk Pemerintah. Sukuk pemerintah sendiri memiliki dua tipe yaitu Sukuk Ritel  dan Sukuk Tabungan. Contoh korporasi yang pernah menawarkan sukuk kepada masyarakat adalah PT XL Axiata dan PLN Persero pada tahun 2019. Sedangkan pada pemerintah, sukuk yang baru keluar Agustus September 2020 ini yaitu SR013 (Sukuk Ritel Seri ke-13).

Pada umumnya sukuk ditawarkan dengan dasar Mudharabah atau pembiayaan proyek bisnis. Namun, pada sukuk pemerintah yang sering digunakan adalah Ijarah atau Sewa Menyewa, jadi Investor membeli sukuk yang dananya akan digunakan untuk membeli aset atau membiayai pembangunan infrastruktur kemudian aset tersebut disewakan kepada pemerintah. Dimana investor akan menerima ujrah atau biaya sewa setiap bulannya dari pemerintah sampai jangka waktu sukuk selesai. Biasanya jangka waktu sukuk ritel adalah 3 tahun, lebih lama dari sukuk tabungan yang biasanya 2 tahun.

3. Deposito Syariah

Dasar dari pelaksanaan Deposito Syariah ini adalah Mudharabah. Dimana pihak nasabah berlaku sebagai Shahibul maal dan bank sebagai Mudharib. Dana masyarakat yang dititipkan nasabah tadi, akan digunakan bank syariah untuk menjalankan operasional bisnis termasuk menjalankan proyek-proyek komersil yang didanai bank. Aliran keuntungan yang diperoleh bank syariah dari pelaksanaan usahanya akan dibagi kepada nasabah sesuai nisbah atau bagi hasil yang besarannya sudah disepakati di awal.

Pada gambar berikut, akan dijelaskan bagaimana skema Mudharabah yang dilakukan bank syariah pada proyek-proyek komersil dengan para pengusaha UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) maupun Korporat dalam rangka memperoleh keuntungan yang sebagian akan dibagi kepada para nasabahnya. 

Sumber gambar skema dari qazwa.id

4. Reksa Dana Syariah

Pelaksanaan investasi pada Reksa Dana Syariah ini diatur dalam Fatwa DSN-MUI Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah. Secara umum, pelaksanaan reksa dana syariah mirip seperti reksa dana konvensional, yaitu adanya Manajer Investasi yang bertindak sebagai pengelola dana untuk diinvestasikan pada instrumen pilihan yang sudah dianalisis terlebih dahulu tingkat risiko dan keuntungannya. Namun, pada reksa dana syariah, sekuritas dan manajer investasi yang dipilih adalah yang mengerti prinsip yang diatur dalam hukum syariah serta kinerjanya selalu diawasi oleh DPS (Dewan Pengawas Syariah). Selain itu, tentu saja intrumen yang dipilih hanyalah efek yang bersifat syariah saja serta menjalankan mekanisme pembersihan harta tidak halal.

5. P2PL (Peer to Peer Lending) Syariah

Pembiayaan melalui Fintech (Financial Technology) berbasis Mudharabah ini dilakukan pada proyek yang diketahui jelas kehalalannya atau pada basis Murabahah yaitu pembiayaan pembelian barang yang halal. P2PL menurut Fatwa DSN-MUI Nomor 117/DSN-MUI/II/2018 dapat dikatakan syariah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Terhindar dari riba, gharar, dan maysir;

2. Tidak adanya manipulasi dan menyembunyikan kecacatan yang akan merugikan pihak lain;

3. Akad baku memenuhi prinsip keseimbangan, keadilan, dan kewajaran sesuai konsep Syariah dan Undang-undang yang berlaku;

4. Akad yang digunakan selaras dengan layanan pembiayaan seperti IjarahMurabahahMudharabahMusyarakah, dan lainnya;

5. Ada bukti transaksi elektroik yang disetujui oleh Investor melalui e-signature; dan

6. Dalam akad dijelaskan model pembiayaan, jangka waktu, termasuk besarnya nisbah atau bagi hasil secara transparan.

6. Emas

Secara Islam, emas diperbolehkan untuk diperjualbelikan dan disimpan selama emas tidak dijadikan sebagai alat transaksi utama di negeri tersebut. Selain itu, biasanya emas harus dimiliki secara fisik dan dibeli secara tunai. Dulu masih banyak perdebatan terkait pembelian emas secara tidak tunai atau kredit. Namun DSN-MUI telah mengeluarkan fatwa nomor 77/DSN-MUI/V/2010 tentang Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai, dari fatwa ini kita ketahui bahwa pembelian emas secara kredit diperbolehkan. 

Hal lainnya terkait emas yang kebanyakan orang sering berbeda pendapat adalah apakah emas merupakan produk investasi atau bukan. Namun, yang perlu diketahui bahwa investasi merupakan pendanaan pada bisnis yang dijalankan oleh manusia sebagai dasarnya. Sedangkan emas, sama seperti komoditi lainnya seperti perak, besi, kopi, coklat, dan sebagainya, maka emas lebih dinilai sebagai tabungan lindung nilai ketimbang investasi. Meskipun secara kenaikan nilai, bisa lebih besar dari kebanyakan investasi dalam jangka waktu panjang. 

Baiklah, sampai di sini dulu penghujung tulisan ini. Kesimpulan dari tulisan ini adalah, anda harus mengenal dengan baik konsep dan cara kerja suatu investasi terlebih dahulu sebelum terjun ke dalamnya. Terlebih terkait pilihan investasi konvensional dan syariah, hal ini lebih berkaitan dengan prinsip dan kenyamanan hati. Jangan sampai terlalu terbawa dengan nafsu memperoleh keuntungan besar sampai melupakan aspek utama yaitu prinsip agama dan prinsip hidup anda.

Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *