Konsep Akad dalam Bisnis dan Investasi Syariah

Sama seperti konsep konvensional, investasi atau pemberian dana pada bisnis syariah dapat berupa surat utang dan surat kepemilikan modal atau saham pada sebuah usaha yang dijalankan oleh manusia sebagai manajemen bisnisnya.

Berikut adalah contoh konsep dan istilah dalam investasi syariah:

1. Sistem Perserikatan (Musyarakah).

Dalam sistem ini ada dua pihak atau lebih yang membentuk perserikatan bisnis dengan tidak hanya menyetorkan modal namun juga tenaga dan pikiran. Dimana bagi hasil atau nisbah dapat diatur sesuai kesepakatan, namun dalam bagi rugi disesuaikan dengan porsi kepemilikan modal yang disetor di awal.

2. Sistem Pembiayaan Bisnis (Mudharabah).

Pertemuan antara pemberi modal (Shahibul Maal) dan pelaksana bisnis (Mudharib). Dalam sistem ini pihak Shahibul Maal akan memberikan sejumlah dana kepada Mudharib, dan Mudharib akan menggunakan dana tersebut untuk menjalankan bisnisnya. Dimana ketika keuntungan telah tercapai, Mudharib akan mengembalikan dana Shahibul Maal tersebut bersama dengan nisbah atau bagi hasil keuntungan. Konsep Mudharabah ini dibolehkan oleh MUI dalam fatwa DSN-MUI Nomor 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah.

Supaya anda dapat melihat perbedaan Musyarkah dan Mudharabah lebih jeas, silahkan lihat tabel perbedaan yang saya buat di bawah ini:

Tabel dibuat oleh Ridwan Gunawan dengan sumber dari qazwa.id

3. Sistem Jual Beli (Murabahah).

Pembiayaan pembelian barang (Murabahah) ini sering disamakan dengan model beli barang secara kredit. Namun pada dasarnya konsep jual beli Murabahah ini berbeda dengan model beli kredit yaitu pada cara pengambilan keuntungannya. Jika dalam kredit, bank membebankan bunga pada nilai barang yang harus dibayar pembeli, sedangkan dalam Murabahah, pemodal akan mengajukan margin atau keuntungan dari harga asli barang yang harus disepakati oleh pembeli pada saat akad di awal. Konsep Murabahah ini diatur dalam fatwa DSN MUI Nomor 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah.

4. Sistem Sewa Menyewa (Ijarah).

Sewa menyewa di sini dibagi menjadi dua bentuk: Ijarah Pekerjaan, menyewakan jasa seperti jasa konsultasi, jasa penerjemah, atau jasa perbaikan. Dan Ijarah Manfaat, menyewakan suatu aset untuk diambil manfaatnya, contohnya, menyewakan rumah tingal bulanan atau tahunan atau menyewakan kendaraan harian.

Supaya lebih jelas melihat detail perbedaan antara Murabahah dan Ijarah, anda dapat melihat tabel perbedaan berikut di bawah:

Tabel dibuat oleh Ridwan Gunawan dengan sumber dari qazwa.id

Sampai di sini dulu pembahasan pengenalan konsep bisnis dan istilah dalam keuangan syariah. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan berkah.

.

Salam.

.

Referensi AlQuran dan Hadits

  1. Q.S. Al-Baqarah: 275, “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” kemudian pada Q.S. Al-Baqarah: 278, “Hai orang–orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang yang beriman”. Ayat tersebut menjelaskan solusi atas pengharam riba yaitu jual-beli.
  2. Nabi SAW bersabda,”Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka buat kecuali syarat yang mengharamkan halal atau mengalalkan yang haram” (HR. Muslim, Tirmizi, Nasa’i, Abu Daud dan Ibnu Majah).
  3. Nabi SAW pergi berniaga sebagai mudharib ke Syam dengan harta Khadijah binti Khuwailid. setelah menjadi nabi, beliau menceritakan itu perniagaan tersebut dengan tegas. Ini menunjukan bahwa praktek mudharabah sudah terjadi ketika Rasulullah SAW menjadi seorang pedagang. Praktek tersebut dilakukan oleh Rasulullah SAW yang saat itu berlaku sebagai mudharib dan Khadijah yang berlaku sebagai shahibul maal.
  4. Sabda Nabi SAW yaitu, “Tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat mudharat bagi orang lain baik permulaan ataupun balasan” (HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani)
  5. Nabi SAW bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga apabila ia berucap ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar dan apabila ia diberikan amanah ia khianat” (HR. Bukhari)
  6. Hadist Nabi SAW dari Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta Abu Bakar menyewa (mengupah) seorang penunjuk jalan yang mahir dari Bani ad-Dail kemudian dari Bani ‘Abdu bin ‘Adi”
  7. Lalu hadist yang sudah umum diketahui yaitu dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berilah upah kepada para pekerja sebelum mengering keringatnya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *