Kenapa Operasi Wasir Bisa Dibayarkan Asuransi Walaupun Masuk ke dalam Pengecualian?

Suatu hari seorang nasabah saya bercerita bahwa beliau ingin menggunakan asuransinya di Penang, Malaysia. Saya langsung terkejut. “Memangnya koko sakit apa?”, “Iya nih, di bagian ***** saya sakit. Bisa kan ya asuransi saya dipake di Malaysia?”. Bisa, jawab saya. Karena memang asuransi kesehatan yang dimiliki nasabah saya satu ini bisa dipakai ke sana.

Saya langsung menghubungi agen perjalanan kesehatan langganan saya yang sudah terbiasa membawa pasien dari Indonesia ke Malaysia maupun Singapura. Anyway, zaman sekarang ada loh agen perjalanan kesehatan luar negeri. Namun sayang agen saya mengatakan bahwa di saat pandemi covid-19 ini pemerintah Malaysia menolak pasien dari luar negeri, kecuali pasien tersebut menggunakan pesawat chartered atau jet-pribadi. Oke, dengan berusaha tetap datar saya menanyakan biayanya. “Biaya pesawat chartered-nya USD 19.000.” Buset dalam hati saya. Kalau dirupiahkan kurang lebih sebesar 275 juta!

Private Jet (Sumber : travel.detik.com)

Akhirnya dengan berat hati saya menyampaikan kepada nasabah saya tadi. Nasabah saya pun terkejut dengan biaya yang harus dibayarkan jika kekeuh mau berobat di Malaysia. Kebetulan saya ingat seorang dokter kenalannya nasabah saya yang lain yang pernah mengoperasi beliau. Akhirnya saya referensikan kepada nasabah saya ini supaya dioperasi di RS St. Borromeus Bandung saja. Untungnya beliau akhirnya setuju dan melakukan pemeriksaan pertama ke RS tersebut.

Singkat cerita setelah pemeriksaan ditemukan bahwa selain wasir, nasabah saya ini mengalami hernia. Combo boss.. Ya udah akhirnya janjian untuk operasi besoknya karena menurut dokter ini sudah tidak boleh ditunda-tunda lagi.

Sebagai informasi, wasir dan hernia adalah dua penyakit yang umumnya dikecualikan oleh perusahaan asuransi selama 8-12 bulan pertama sejak polis diterbitkan. Penyakit ini sifatnya tidak muncul secara tiba-tiba, makanya perusahaan asuransi mengecualikannya untuk sementara waktu. Beruntung nasabah saya ini sudah memiliki polis sejak 14 bulan yang lalu. Jadi langsung aja eksekusi!

Ilustrasi Operasi (Sumber : netdoctor.co.uk)

Satu hari setelah beres operasi saya menengok beliau. Kondisinya sudah oke namun masih lemah dan menggunakan obat penahan rasa sakit. Beliau menyampaikan kepada saya bahwa ia bersyukur sekali bisa dibantu. Saya pun mendoakan supaya beliau cepat pulih dan bisa beraktivitas normal kembali. Rencananya 2 hari lagi ia akan check-out dari rumah sakit.

Lusanya tiba-tiba ada sebuah masalah. Nasabah saya dimintai keterangan tentang riwayat kesehatannya. Perusahaan asuransi menanyakan riwayat pada tahun 2015 ia pernah berobat ke rumah sakit mengenai sebuah benjolan di daerah yang sama dengan yg dioperasi sekarang dan 2017 pernah datang ke dokter THT. Kebingungan, lantas nasabah saya ini menelpon saya.

“Ini saya diminta isi formulir. Saya isi apa ya?”

“Oh, memangnya waktu itu apa yang terjadi, ko? Ceritain aja dengan jujur.”

“2015 saya ke dokter di RS (yang berbeda dengan sekarang) memang ada benjolan di bagian itu. Saya dikasih salep dan obat minum gitu. Puji Tuhan sembuh. Dan kata dokternya ga bahaya. Lalu di tahun 2017 saya ke THT waktu itu telinga saya ga nyaman. Ternyata menurut dokter itu karena saya bersin terlalu keras.”

“Oh, kalau begitu tulis aja sejujur-jujurnya. Ga jadi masalah kok itu.”

Jujur saya pun terkejut perusahaan asuransi bisa mengetahui riwayat tersebut. Waktu saya bertanya riwayat kesehatannya pada saat pertama kali nasabah ini mau membeli asuransi, ia tidak menceritakan riwayat ini. Ketika saya tanya, kenapa waktu itu tidak diceritakan? Dia bilang lupa. Padahal ia pun tidak pernah punya asuransi sebelumnya.

Awalnya saya deg-degan karena riwayat yang ditanya adalah benjolan di daerah yang sama. Namun setelah mendengar keterangannya, saya menjadi lebih tenang.

Puji Tuhan ketika mau check-out nasabah saya keluar tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Ternyata klaimnya disetujui oleh pihak asuransi. Walaupun menunggu antrian check-out cukup lama, namun nasabah saya ini mengaku sangat senang. Total biaya yang ditagih pihak RS kepada perusahaan asuransi sebesar kurang lebih 38 juta rupiah.

“Terima kasih ya, keluarga saya seneng banget operasi saya ini bener-bener dibayarin. Ga nyangka loh operasi gini bisa habis sebesar itu. Kalo ga ada asuransi saya juga bingung mau bayar pake apa ini?” katanya dengan senang.

Wajah bahagia setelah claim asuransi disetujui. (Sumber : thedailybeast.com)

Sampai artikel ini ditulis proses kesembuhannya masih dipantau. Ia masih bolak-balik RS untuk kontrol. Jadi masih ada biaya yang nantinya akan di-reimburse ke perusahaan asuransi.

Manusia tidak akan pernah tau jika suatu saat diizinkan sakit dan dirawat di rumah sakit. Tidak pernah ada orang yang bangkrut karena membayar asuransi, namun banyak orang bangkrut karena tidak memiliki asuransi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *