Jangan Terlalu Berkutat dengan Angka Dana Darurat

Pexels.com by Markus Spiske

Selama pandemi ini, apakah anda memperhatikan semakin banyak konten-konten seputar literasi keuangan bertebaran di social media?

Banyak tidak teman-teman anda yang semakin concern dengan pengaturan keuangan mereka?

Terlebih selama pandemi ini, isu PHK, pengurangan gaji, kenaikan harga barang, dan sebagainya menjadi momok dan membuat orang-orang menjadi waspada.

Dari sekian banyak ilmu keuangan yang dapat dipelajari secara gratis saat ini, orang-orang mulai mengenal dengan pentingnya memiliki tabungan dan investasi. Supaya keuangan mereka aman baik di masa sekarang dan di masa depan.

Dalam ilmu mengelola keuangan personal, kita mengenal adanya Dana Darurat atau disingkat DD. Sudah banyak sekali yang membahas apa itu DD, apa fungsinya, bagaimana cara mengumpulkannya, serta pada kondisi apa saja DD ini dapat digunakan.

Dalam manajemen DD kita mengenal ada koefisien atau angka pengali sebagai dasar perhitungan jumlah DD pada setiap individu atau keluarga. Misal DD untuk single 6 kali total belanja bulanan, dan 12 kali untuk yang sudah memiliki pasangan dan anak.

Secara time frame, DD 6 kali belanja bulanan berarti bisa menolong individu bertahan hidup tanpa pendapatan (misal kena PHK) sampai bulan ke-6. Kalau DD 12 kali ya bisa bertahan sampai bulan ke-12 tanpa penghasilan.

Tapi pernahkah anda bertanya, bagaimana angka ini dipilih? Kenapa harus 6 atau 12? Mengapa buat yang masih single angka pengalinya cuma 6? Sedangkan yang sudah berkeluarga angka pengalinya lebih banyak? Padahal variabelnya adalah total belanja bulanan, dan secara total akumulasi angkanya sudah memperhitungkan biaya hidup pasangan dan anak-anak.

pexels.com by Migs Reyes

Jawabannya, pemilihan angka pengali tersebut dasarnya bukan pada anda single atau sudah berkeluarga, namun berdasarkan profil risiko masing-masing si tulang punggung keluarga. DD ini dirancang untuk menjadi proteksi penghasilan di keluarga anda. Karena ada hal-hal yang tidak dapat dicover asuransi, seperti kehilangan pekerjaan karena kondisi resesi atau industri sedang jatuh akibat dari pandemi misalnya.

Maka, baik untuk individu yang masih hidup melajang maupun memiliki keluarga untuk dinafkahi, perlu mengukur kondisi risiko masing-masing pekerjaan/bisnis yang memberikan penghasilan tiap bulannya.

Jika anda bekerja sebagai pengusaha UMKM, yang usia bisnis anda kurang dari 5 tahun, maka anda perlu menyediakan DD lebih dari 6, karena bisnis anda belum masuk ke tahap stabil dan masih banyak kemungkinan jatuh karena kondisi persaingan dan sebagainya.

Namun jika anda bekerja sebagai PNS atau pegawai tetap yang memiliki kontrak kerja dimana ada klausul bahwa proses pemecatan tidak akan dilakukan dengan mudah dalam kondisi apapun bahkan force majeur sekalipun, maka bisa saja DD yang harus anda kumpulkan cukup 6 kali atau bahkan kurang dari 6.

Kembali lagi ke konsep manajemen keamanan keuangan, DD ini adalah salah satu teknik untuk memproteksi pendapatan ketika terjadi sesuatu yang menyebabkan kehilangan penghasilan untuk menafkahi diri anda dan keluarga anda sendiri dalam periode beberapa bulan.

Kata kuncinya di sini adalah proteksi pendapatan. Ada banyak metode lain yang dapat anda gunakan dalam melindungi kesejahteraan keluarga dan diri anda.

Skitterphoto

Bisa dengan memiliki asuransi, meskipun hanya kondisi tertentu yang mana dapat dilakukan klaim.

Contoh lainnya, dengan memiliki aliran pendapatan lebih dari satu. Misal selain memperoleh gaji dari bekerja sebagai pegawai, anda juga bisa menambah tambahan penghasilan dari bekerja sebagai freelancer, dividen dan capital gain dari investasi saham, imbal bagi hasil dari investasi pada bisnis lokal maupun P2P Lending, dan sebagainya.

Anda juga dapat memproteksi pendapatan anda dengan cara meningkatkan value diri anda. Misal memperdalam hard-skill kemampuan yang sudah anda miliki. Jika anda akuntan, bisa ambil CPA, CFA, CFP, atau sertifikasi lainnya yang dapat meningkatkan nilai jual anda. Atau buat yang lainnya bisa mengambil kursus desain website, SEO marketing, jahit, hidroponik, masak, public speaking, speed learning, memory hack, personal branding, design thinking, dan lainnya.

Anda juga bisa meningkatkan soft-skill untuk meningkatkan intangible value anda di tempat anda bekerja maupun di komunitas anda. Misal dengan banyak membaca buku pengembangan diri, buku kisah orang sukses, berkomunitas dengan orang-orang positif, melakukan travelling ke daerah-daerah untuk belajar kearifan lokal, dan sebagainya.

Selain peningkatan hard-skill dan soft-skill anda juga perlu berkomunitas dan membangun reputasi anda dengan cara yang benar. Maksudnya bukan sekedar pencitraan di social media, namun dengan menunjukan prestasi anda serta menghargai pencapaian dari teman-teman anda baik di dunia digital maupun dunia offline. Hal ini untuk membangun reputasi serta menunjukkan kapasitas dan nilai anda pada dunia. Bukan untuk menyombongkan diri namun lebih ke menunjukkan posisi, dalam rangka mitigasi risiko apabila di kemudian hari anda membutuhkan pekerjaan karena terjadi sesuatu pada perusahaan anda di masa depan. Di lain sisi, anda akan dengan mudah diajak bergabung bekerja dengan perusahaan atau organisasi lainnya karena mereka sudah mengetahui kemampuan dan nilai anda.

pixabay

Pada level ini, ketika value dan reputasi diri sudah meningkat serta aliran pendapatan sudah lebih dari satu, kira-kira masih butuh DD sebanyak 12 kali total belanja bulanan tidak?

Jawaban saya kembalikan ke individu masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *