Filosofi Dasar Keuangan Syariah

Dalam Islam, pelaksanaan investasi itu tidak semata tentang mencari keuntungan setinggi-tingginya saja.

Mungkin anda sudah sangat sering mendengar kata investasi syariah, terlebih setelah pandemi ini berlangsung, orang-orang semakin waspada dengan keuangan dan masa depan mereka. Hasilnya semakin banyak orang-orang belajar investasi dan semakin banyak pula konten-konten tersebar di dunia internet seputar keuangan dan investasi.

Dalam tulisan ini, saya akan membahas salah satu jenis investasi yang sangat penting untuk dipelajari namun masih sedikit yang membahas dan membagikan pengetahuan ini, yaitu tentang investasi syariah. Namun sebelum masuk ke bagian investasi, apakah anda sudah mengetahui sebenarnya kenapa ada embel-embel syariah di belakangnya? Apakah investasi jenis ini hanya diperuntukkan bagi umat muslim saja? Yuk kita simak penjelasan berikut.

Pertama-tama, kenali dulu kata ‘syariah’ itu sendiri.

Syariah berarti mengikuti hukum Islam, jika dalam ekonomi atau investasi diikuti kata syariah di belakangnya, berarti pelaksanaan ekonomi atau investasi tersebut berdasarkan ketentuan yang diatur di dalam Al-Quran dan Hadits.

Di dalam Islam, pelaksanaan ekonomi maupun investasi itu tidak semata tentang mencari keuntungan setinggi-tingginya saja. Banyak aspek yang mesti diperhatikan seperti hubungan antar manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Maka, banyak hal yang membedakan sebuah investasi denan label syariah dibandingkan dengan investasi pada umumnya yaitu investasi konvensional.

Sejarah Investasi Syariah

Sebenarnya, pelaksanaan investasi dengan hukum Islam ini sudah berjalan sejak jaman Muhammad SAW sebelum beliau menjadi Rasul yaitu, ketika berniaga bersama Khadijah. Pada masa itu Muhammad SAW dipercaya untuk menjalankan modal dari Khadijah dan berhasil memberikan keuntungan besar untuk dibagi berdasarkan kesepakatan. Kemudian ketika Muhammad SAW telah menjadi Rasul, beliau tetap menceritakan kejadian tersebut kepada umatnya dengan jelas, hal ini menunjukkan bahwa konsep bisnis tersebut boleh dilakukan oleh semua orang.

Selain itu, pada tahun 634-633, di masa kekhalifahan Ummar Bin Khattab, beliau pernah memerintahkan para pegawainya untuk menyisihkan uang gajinya untuk membeli seekor kambing setiap bulan. Pada masa itu, terlihat bahwa masyarakat telah melaksanakan investasi dengan membeli seekor kambing setiap bulan, kelak kambing tersebut akan tumbuh besar, saling berkembang biak, dan melahirkan anak-anak kambing baru. Selain masyarakat dapat menjual kambing-kambing tersebut, susunya pun juga dapat mereka jual untuk menambah penghasilan. 

Konsep Rahmatan lil alamiin itu artinya segala hal yang diatur dalam Islam berlaku untuk semua makhluk yang ada di muka bumi ini.

Untuk siapa sebenarnya Investasi Syariah ini?

Investasi Syariah tidak hanya diperuntukkan bagi umat beragama Islam saja. Investasi ini tetap bersifat universal, karena kembali lagi pada konsep Islam, Rahmatan lil alamiin, segala hal yang diatur dalam Al-Quran dan Hadits berlaku untuk semua makhluk yang ada di muka bumi ini. Contohnya saja di Inggris, negara tersebut diakui sebagai pusat perekonomian syariah, padahal mayoritas penduduknya tidak beragama Islam. Inggris dapat dikatakan demikian karena ekonomi syariah dikaji dengan dalam di sana serta implementasi bisnis dan investasinya banyak menggunakan dasar syariah, meskipun nama-nama organisasi maupun institusi di sana tidak memakai label syariah seperti di Indonesia.

Hal mendasar yang harus diketahui dalam Investasi Syariah

Sama seperti Investasi pada umumnya, landasan investasi adalah bisnis yang dijalankan oleh manusia. Namun yang membedakan investasi syariah dengan investasi konvensional adalah pada hal-hal sebagai berikut:

1. Produk atau jasa yang dijual adalah yang halal saja.

Contohnya adalah selain produk-produk yang dibolehkan dan memperoleh label Halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia), produk lain yang dapat dikategorikan halal misal produk sayur dan buah di pasar tradisional, pakaian, dan sebagainya. Hindari bisnis dengan produk haram seperti bisnis minuman beralkohol, daging yang diharamkan dalam Islam untuk dimakan, lokalisasi, perjudian, dan lain sebagainya.

2. Penghasilan tidak bersifat ribawi.

Riba yang dimaksud adalah bunga atau interest. Dalam Islam, riba berarti tambahan dari suatu pinjaman, dan menurut hukum syariah, riba ini merugikan tidak hanya si peminjam tapi juga si pemberi pinjaman. Bunga yang biasanya dibebankan tetap setiap bulannya tidak mengenal kondisi kinerja bisnis sedang baik atau jatuh, hal ini merugikan peminjam ketika bisnis sedang jatuh dan merugikan pemberi pinjaman saat bisnis sedang baik. Adanya kesempatan yang hilang dalam memperoleh bagi hasil yang lebih baik daripada bunga.

Dalam investasi syariah, adanya nisbah atau bagi hasil yangdisepakati kedua belah pihak di awal mengacu pada kinerja bisnis. Semakin bagus kinerja bisnis maka semakin besar porsi bagi hasil, di sisi lain jika bisnis rugi maka kerugian akan dibebankan 100% pada pemodal saja. Meskipun tidak dibebankan biaya, pelaksana bisnis sudah mengerahkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menjalankan usaha tanpa dibayar uang sepeser pun. Hal itu merupakan konsep keadlian yang diatur dalam hukum syariah.

3. Tidak mengandung gharar atau ketidakpastian.

Yang dimaksud di sini adalah, landasan berbisnis dalam Islam harus jelas dan transparan. Jika A ditulis A jika B ditulis B. Tidak boleh ada manipulasi atau segala sesuatu yang ditutup-tutupi. Contohnya, ketika seseorang akan berinvestasi pada suatu bisnis X, maka pengelola bisnis X tersebut harus transparan memaparkan model bisnis, produk yang dijual halal atau haram, harganya berapa, sampai bagi hasil keuntungannya seperti apa. Kejujuran adalah pondasi dalam menumbuhkan hubungan kerjasama bisnis dan investasi yang sehat dan bertahan lama. 

4. Tidak mengandung Maysir atau spekulasi.

Dalam bisnis yang akan diinvestasi, konsep jual belinya harus mudah dimengerti, tidak ada unsur spekulasi yang berujung pada perjudian. Contohnya adalah sistem jualan lotre atau kupon undian. Pembeli dapat membeli sebuah kupon dengan harga sangat murah, jika beruntung dia dapat hadiah dalam bentuk apapun untuk menarik banyak orang membeli kupon tersebut, bisa berupa mobil, liburan ke luar negeri, sampai sejumlah uang dalam jumlah yang fantastis. Sifat ini harus dihindari dalam menjalankan bisnis karena dapat membawa keburukan pada masyarakat, mereka akan jadi malas bekerja dan selalu menginginkan hal instan saja.

5. Membayar kewajiban zakat.

Penghasilan yang diperoleh dibayarkan zakat sesuai ketentuan yang diatur dalam Islam. Hal ini memberikan keberkahan dan rasa nyaman dalam hati karena zakat yang dibayarkan telah memenuhi kewajiban dalam Islam dan memberikan dampak sosial pada lingkungan sekitar. Tentu saja zakat ini di luar dari progam CSR (Corporate Social Responsibility) serta pembayaran pajak.

Sampai di sini dulu pengenalan awal tentang keuangan syariah. Semoga tulisan ini bermanfaat dan berkah untuk anda semua.

Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *